Sesuai mengikuti suatu kegiyatann Nahdlatul ulama di semarang, rombongan kyai rembang dalam satu mobil dalam perjalanan pulang. Diantara mereka ada MBAH KYAI AHMAD SYAHID BIN SHOLIHUN rahmatullah dari desa kemandulan, kecamatan silang kabupaten rembang.
Melewati wilayah demak yg kalanya senantiasa dalam keadaan buruk , mobil itu tak dapat melaju kencang . Tiba tiba dalam air kanal di pinggir jalan menyusul sosok laki laki tanpa sehelai benang menempel di tubuh nya. Dengan percaya diri laki laki itu mendaki ke atas tebing sembari menggenggam erat pusat rasa malunya seolah olah jika bagian itu tertutup bagian sisa tubuh nya pun tak kelihatan .
Terang saja pemandangan tak senonoh pun menghujam pemandangan para kyai . Lumrah bila beliau beliau terperanjat bukan kepalang.
"Astaghfirullah!! " ucap kyai mabrur.
"Masya allah!!" KYAI wahab.
"Laailaaha illallag !" KYAI taman.
Dan mbah syahid AHMAD sholihin.
"Alhamdulillah"
Selain merupakan dikira yang di biasakan "Alhamdulillah " bagi mbah syahid adalah KREDO. Segala yg terjadi adalah kehendak dan karya allah. Dan setiap kehendak dan karyanya hanya pujian lah yg patut bagi allah.
Jika ada orang menceritakan dagangan nya laku MBAH syayid sontak mengucap "Alhamdulillah"
Orang wadul sakit "Alhamdulillah"
Orang meninggal" alhamdulilah"
Seolah olah tak ada dzikir yg patut selain "Alhamdulillah"
Entah sejak kapan masyarakat menjuluki mbah AHMAD SYAYID SHOLIHIN di juluki kyai Alhamdulillah "
Di ambil dari buku:ngopi di pesantren
Tidak ada komentar:
Posting Komentar