Senin, 18 Februari 2019

Biografi SYAIKH ubaidah giren

SYAIKH ABU UBAIDAH
Ulama Tegal yang Mendunia
Oleh: Ahmad Mudzoffar

Kalau menurut Maulana al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, beliau adalah ulama Nusantara yang keilmuannya mendunia. Ya, ialah Syaikh Abu Ubaidah, perintis berdirinya Pondok Giren yang masyhur dengan kedalamannya dalam ilmu tauhid.

***

Kampung Giren sendiri berasal dari nama ulama yang pertama kali menetap di sana, Mbah Giri. Kebesaran nama beliau menjadikan wilayah perkampungan yang beliau diami dinamai dengan namanya. Itu merupakan salah satu bukti pengakuan ketokohan beliau di wilayah Tegal dan sekitarnya.

Termasuk pengemban keulamaan di Giren setelah Mbah Giri adalah Syaikh Abu Ubaidah. Di masa beliau inilah dimulai pengembangan keagamaan dengan mendirikan masjid. Masjid yang beliau dirikan di kampung Giren sekarang dikenal dengan nama Masjid al Ubaidiyyah.

Sebagaimana Rasulullah s.a.w., Syaikh Abu Ubaidah juga menjadikan masjid sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam. Berawal dari santri yang mengikuti pengajian di Masjid al Ubaidiyyah kemudian berdirilah pondok pesantren yang kemudian diberi nama 'At-Tauhidiyyah', nama yang sesuai dengan keilmuan yang masyhur pada Syaikh Abu Ubaidah yaitu ilmu tauhid.

Termasuk guru dari Syaikh Abu Ubaidah adalah Mbah Anwar,  Lemahduwur, Tegal  yang masyhur di Hijaz dengan sebutan ‘Hikam Jawa’ karena pendalaman pengamalannya akan kitab karya Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary itu. Guru beliau yang lain adalah Syaikh Ubaidillah, Dresmo, Surabaya. Dari guru yang satu inilah Syaikh Abu Ubaidah mendalami ilmu tauhid sampai kemudian mahir dan menjadi pakar ilmu tauhid. Kemahirannya itu terbukti hingga ketika beliau bermukim di Makkah al Mukaromah, beliau mendapat julukan sebagai Asy’ari Hadzal Ashr, Imam Asy’ari di zamannya. (Imam Abul Hasan Ali al Asy'ari adalah pakar ilmu tauhid pendiri madzhab Asy’ariyyah yang merupakan madzhab Ahlussunah wal Jama’ah dalam ilmu Ushuluddin; red.)

Beberapa tahun dihabiskan Syaikh Abu Ubaidah di kota Makkah al Mukaromah untuk belajar dan mengajar di sana. Setelah dirasa cukup, beliau memutuskan untuk kembali ke Nusantara untuk membimbing muslimin di Jawa mengkaji ilmu tauhid. Beliau memiliki harapan muslimin di Jawa bisa memahami ilmu tauhid sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w..

Dalam rencananya kembali ke Nusantara beberapa ulama Hijaz memintanya untuk berkenan mampir ke Pakistan untuk mengajarkan ilmu tauhid terlebih dahulu di sana. Beliau menurutinya. Dalam perjalanannya beliau mampir di Pakistan dan mengajar ilmu tauhid di sana. Hal itu beliau lakukan selama beberapa tahun di Pakistan.
Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan kembali ke Jawa dan menuju Giren, kampung halamannya.

Awal sampai di Giren, Syaikh Abu Ubaidah langsung mengajar ilmu tauhid kepada para tetangga dan orang-orang kampung di sekitarnya. Dengan kharisma yang dimilikinya warga kampung sangat antusias dengan pengajian yang diadakan oleh beliau. Semakin hari orang-orang yang datang mengaji semakin banyak.

Setelah geliat kesemangatan mengaji terasa kuat, Syaikh Abu Ubaidah mulai merintis pembangunan masjid. Pengajianpun perlahan dipindahkan ke masjid. Dari pengajian yang diadakan di masjid nampak santri-santri dari jauh mulai berdatangan. Dari situ Syaikh Abu Ubaidah memulai perintisan pembangunan pondok pesantren. Setelah berdiri, beliau menamai pesantrennya dengan nama Pondok Pesantren At-tauhidiyyah. Dan hingga sekarang pesantren itu masih berdiri dan masih mengajarkan ilmu tauhid di bawah asuhan KH. Ahmad Sa'idi dan KH. Muhammad Hasani.

Syaikh Abu Ubaidah lahir di Giren sekitar tahun 1840-an dan wafat pada Selasa, 9 Nopember 1941, bertepatan dengan tanggal 15 Jumadil Tsani 1357. Nah, pada hari Rabu depan, 15 Jumadil Tsani 1440, 19 Februari 2019 adalah haul kewafatan beliau yang ke-83. Semoga kita bisa hadir dalam peringatan haul beliau yang akan diisi dengan pengajian umum bertempat di pemakaman umum Giren.

-----------------------------------------------------------------

Minggu, 10 Februari 2019

Siti khodijah

"KHADIJAH"

Khadijah Memang Wanita Istimewa
DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW. Beliau wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun beliau miliki. Bahkan baju yang dikenakan beliau di saat menjelang wafat adalah pakaian sederhana dengan 83 tambalan.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.

Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Mahamengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Khadijah

Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu, lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, ?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan, Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan, Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, Ingatkan mereka kepada yang haq, Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib...

Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, ya ILahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku, Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku, Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”

PENTING NYA ADAB

Memberi banyak pelajaran pada muslim jaman sekarang yang sudah krisis adab, terutama adab pada guru.

PENTINGNYA ADAB

---

Suatu ketika Imam Yahya bin al-Qaththan, setelah melaksanakan shalat ashar, bersandar di bawah menara masjid beliau. Di sekitar beliau ada Ali bin al-Madini, asy-Syadzakuni, Amru bin Ali, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main serta ulama lainnya yang ingin berguru kepada beliau. Mereka berdiri hingga menjelang shalat magrib.

Saat itu Imam Yahya bin al-Qaththan tidak meminta mereka untuk duduk. Karena itu mereka pun enggan untuk duduk dalam rangka menghormati guru (Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, hlm. 78).

Demikianlah cara ulama terdahulu menghormati guru mereka. Mereka tetap memilih berdiri meski dalam waktu yang cukup lama, sebelum sang guru mempersilakan mereka duduk.

Di lain waktu, Imam al-Fara’—seorang ulama Kufah yang paling pandai dalam ilmu nahwu dan sastra—diminta oleh Khalifah Makmun untuk mengajarkan ilmu nahwu untuk kedua putranya. Ketika beliau selesai mengajar dan beranjak untuk pergi, kedua anak Khalifah itu berebut untuk membawakan sandal Imam al-Fara’ sebagai bentuk penghormatan mereka kepada sang guru. Mengetahui hal itu, Imam al-Fara’ akhirnya meminta kepada kedua anak itu masing-masing membawa satu sandal hingga keduanya sama-sama menyerahkan sandal kepada beliau (Wafayat al-A’yan, 2/228).

Tidak hanya murid terhadap guru, adab juga acapkali ditunjukkan oleh ulama kepada ulama lainnya. Di antaranya Imam Syafii. Sebagaimana diketahui, Imam Syafii berpendapat tentang keharusan membaca doa qunut dalam shalat subuh. Namun, Imam Syafii—seorang ulama besar sekaligus imam mujtahid—pernah beberapa kali melaksanakan shalat subuh di dekat makam Imam Abu Hanifah. Saat itu ia memilih tidak melaksanakan qunut subuh dalam rangka menjaga adab terhadap Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa qunut subuh tidak disyariatkan (Ad-Dahlawi, Al-Inshaf fi Bayan Asbab al-Ikhtilaf, hlm. 110).

Demikianlah, betapa para ulama besar di zaman terdahulu amat hormat kepada ulama lainnya, meski berbeda pendapat. Bahkan terhadap ulama yang sudah wafat pun adab itu tetap dijaga.

Adab yang sama ditunjukkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Selama ini beliau berpendapat mengenai keharusan membaca basmalah (saat membaca surat al-Fatihah) secara sirr (pelan dan hanya diri sendiri yang mendengar) dalam salat. Namun, di wilayah tertentu beliau berpendapat, “Dibaca jahr (dengan suara jelas yang bisa didengar oleh orang lain) basmalah jika berada di Madinah.”

Ibnu Taimiyah menyimpulkan bahwa Imam Ahmad kadang-kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah demi alasan persatuan dan menghindari perpecahan. Alasannya, menyatukan hati umat lebih agung dalam agama dibandingkan dengan beberapa perkara sunnah (Risalah al-Ulfah bayna al-Muslimin, hlm. 47 dan 48)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Qadhi Abu Utsman al-Baghdadi, meskipun termasuk ulama besar dan hakim mazhab al-Maliki, sering mengunjungi Imam ath-Thahawi yang bermazhab Hanafi untuk menyimak karya-karya beliau (Al-Maqalat al-Kautsari, hlm. 348).

Adab juga ditunjukkan oleh para ulama terhadap ilmu. Suatu saat, Imam al-Hulwani—ulama pengikut mazhab Hanafi yang menjadi imam besar di Bukhara—pernah menyampai-kan, “Sesungguhnya aku memperoleh ilmu ini dengan memuliakannya dan aku tidak mengam-bil catatan ilmu kecuali dalam keadaan suci.”

Hal ini diikuti oleh murid beliau yang juga seorang ulama besar, yakni Imam Syamsuddin as-Sirakhsi. Suatu saat beliau mengulang wudhu pada malam hari hingga 17 kali karena sakit perut. Hal itu beliau lakukan agar bisa menelaah ilmu dalam keadaan suci (Mukhatsar al-Fawaid al-Makkiyah, hlm. 30).

Adab dan penghargaan para ulama terhadap ilmu juga ditunjukkan oleh Al-Hafizh Muhammad bin Abdissalam al-Bilkandi, salah seorang guru Imam al-Bukhari. Suatu saat beliau menghadiri majelis imla‘ hadits. Saat Syaikh di majelis tersebut mendiktekan hadits, tiba-tiba pena al-Bikandi patah. Khawatir kehilangan kesempatan untuk mencatat, beliau akhirnya mencari cara agar segera memperoleh pena. Tak lama kemudian beliau berteriak, “Saya mau beli pena dengan harga satu dinar!” Seketika, banyak pena disodorkan kepada beliau (Umdah)Kini, satu dinar emas, kalau dikurskan ke rupiah kurang lebih senilai Rp 2 juta. Demikianlah Imam al-Bikandi. Ia rela kehilangan uang sebesar itu hanya agar beliau tetap berkesempatan mencatat hadis. Itu ia lakukan tentu karena penghormatan dan penghargaannya yang luar biasa terhadap ilmu.

Adab juga ditunjukkan oleh penguasa terhadap ulama. Imam ar-Rafii suatu saat mengunjungi Sultan Khawarzmi Syah setelah tiba dari medan pertempuran. Ulama tarjih mazhab Syafii tersebut menyampaikan, “Saya telah mendengar bahwa Anda memerangi orang-orang kafir dengan tangan Anda sendiri. Saya ke sini untuk mencium tangan Anda itu.” Namun, Khawarizmi Syah menjawab, “Saya justru yang yang ingin mencium tangan Anda.” Akhirnya, Khawarizmi  mencium tangan Imam ar-Rafii (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, VIII/284).

Karena begitu berharganya akhlak atau adab para ulama, ada sebuah kisah menarik terkait seorang ulama besar bernama Ibn al-Mubarak. Saat itu ia bertetangga dengan seorang Yahudi. Si Yahudi berencana menjual rumahnya. Datanglah seseorang yang menawar rumahnya, “Engkau menjual dengan harga berapa?” Si Yahudi menjawab, “Dua ribu.” Si penanya berkata, “Harga rumahmu ini paling mahal seribu.” Si Yahudi menjawab, “Memang benar, tetapi yang seribu lagi untuk ‘harga’ tetanggaku, Ibnu Mubarak.” (Al-Makarim wa al-Mafakhir, hlm. 23)

Demikianlah, memiliki tetangga baik, berakhlak dan beradab seperti Ibnu Mubarak merupakan sebuah ‘harta’ yang amat mahal bagi si Yahudi. Karena itu, ia menilai tidak hanya rumahnya yang berharga, tetangganya yang baik juga memiliki harga tersendiri.

****

Mengapa begitu mulia akhlak atau adab para ulama dan para salafush-shalih dulu? Kata-kata Imam Ibn Qasim, salah satu murid senior Imam Malik, barangkali bisa menjelaskan hal ini saat ia berkata, “Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Selama itu 18 tahun aku mempelajari adab (akhlak) dari beliau, sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu.” (Tanbih al-Mughtarrin, hlm. 12).

Bagaimana dengan kita?

Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib.

Oleh: Arief B. Iskandar

 []

Sabtu, 09 Februari 2019

Hindari shalawat buntung

HINDARILAH SHOLAWAT BUNTUNG
(Maulana Habib Lutfi Bin Yahya)

Bacaan sholawat yang biasa kita ucapkan itu bukan sekedar bacaan biasa. Memang bunyinya seakan mendoakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Secara harfiah memang demikian. Namun, dibalik itu semua, ada sebuah rahasia besar yang luar biasa sekali.

Jika kita menganggap bahwa sholawat itu semata-mata adalah mendoakan rahmat kepada Kanjeng Nabi, itu salah besar. Kanjeng Nabi itu tidak butuh doa kita. Amalan beliau sudah turah-turah. Kanjeng Nabi kok butuh doa kita, lha emang kita ini siapa?

Bila dikaji dengan secara mendalam, ternyata sholawat adalah kata kunci, semacam “password”  untuk menyatukan seluruh frekuensi kehidupan di jagad raya ini. Jadi, bukan sekedar mendoakan rahmat kepada Kanjeng Nabi semata.

Oleh karena itu, jika membaca sholawat jangan sampai hanya sebatas: Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad. Secara harfiah itu boleh-boleh saja, tidak salah. Namun itu termasuk sholawat buntung. Lalu bagaimana yang lebih sempurna? 

Bacalah: Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad WA’ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD (Ya Allah semoga kiranya rahmat senantiasa tercurah kepada Kanjeng Nabi Muhammad dan juga atas keluarga Kanjeng Nabi Muhammad) . Minimal demikian. Jangan lupa sertakan selalu kalimat WA’ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD.

Menurut Sayyidina Imam Syafi’i, kalimat Wa’ala ali Sayyidina Muhammad itu tidak sekedar tertuju kepada keluarga, ahlul bait atau dzurriyah Kanjeng Nabi semata, tetapi juga seluruh Kaum Muslimin di muka bumi ini.

Jadi, ketika membaca sholawat secara lengkap akan menjadi kekuatan super dahsyat, dimana kaum Muslimin di seluruh jagad raya ini menyatukan diri dalam sebuah frekuensi. Menjadi bagian dari kekuatan doa yang maha dahsyat. Semua termaktub dalam satu kalimat. Sungguh luar biasa.

Karena itu, mulai sekarang selalu diingat-ingat ya, jika bersholawat jangan biasakan membaca sholawat yang buntung. Bacalah sholawat dengan mencangking seluruh keluarga besar kaum Muslimin.

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa’ala ali Sayyidina Muhammad.

Ditulis oleh Shuniyya Ruhama
Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri- Kendal  .

Punya fethis popok gara gara idea mamah .

 Jadi kecanduan popok karena mamah . Nama saya Siska umur 17 tahun  kelas 11 SMA .berawal sejak kelas 7 SMP  saya sering ngomopl  terus mama...